my family

my family

Kamis, 05 Mei 2011

LINGUISTIK



LINGUISTIK BANDINGAN HISTORIS
(GORYS KERAF)  
A. Pengertian linguistic bandingan historis
Linguistik banndingan historis (linguistik historis komperatif) adalah suatu cabang dari ilmu bahasa yang mempersoalkan bahasa dalam bidang waktu serta perubahan-perubahan unsure bahasa yang terjadi dalam bidang waktu tersebut. Linguistic bandingan bahasa merupakan cabang ilmu bahasa yang lebih menekankan tekhnik dalam pra-sejarah bahasa. Penelitian pra-sejarah bahasa tentu tidak akan terjadi dengan sendirinya tanpa data-data kuno yang terdapat dalam naskah-naskah.dengsn mempergunakan data-data tersebut, para ahli berusaha untuk menjangkau lebih jauh dalam kehidupan bahasa pada jaman sejarah. Jaman sejarah bahasa tidak diikutsertakan karenanya datanya sudah jelas, serta perubahan-perubahan yang terjadi dapat di rumuskan dengan jelas dari data-data tersebut, karena dapat di peroleh dari catatan-catatan tertulis. Dengan memergunakan data-data tertulis tersebut di ketauhi perkembangan tersebut, dengan pasti di ketauhi parkembangan dan pencabangan dalam bahasa-bahasa tersebut.
Bahasa adalah suatu alat pada manusia untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam sekitar atau peristiwa-peristiwa yang dialami secara individual atau secara bersama-sama. Bila kita menerima pendapat ini, maka studi perbandingan bahasa adalah suatu karya yang bersifat universal,  karena ia berusaha untuk menemukan kenyataan-kenyataan bagaimana bangsa-bangsa di dunia pada zaman dahulu kala memandang dunia sekitarnya yang disimpan dalam bahasanya masing-masing.
B.        Tujuan linguistic bandingan historis
Pengenalan atas dua bahasa atau lebih, selalu menarik perhatian orang. Perhatian tersebut, khususnya pada seorang ahli bahasa, membawa seseorang lebih jauh untuk menetapkan apakah ada kesamaan-kesamaan tertentu atau tidak dalam bahasa-bahasa tersebut. Keingintahuan  tersebut menjaring pula perhatian para ahli bahasa untuk mengetahui apakah unsur-unsur yang sama tersebut merupakan bukti bahwa pada jaman dahulu bahasa-bahasa tersebut merupakan suatu bahasa tunggal. Para ahli kemudian mengarahkan penelitiannya kepada sasaran-sasaran tertentu yang dijadikan landasan tujuan dari linguistic bandingan historis.
Dengan memperhatikan luas lingkup linguistic bandingan historis tersebut, dapat dikemukakan tujuan  dan kepentingan linguistic bandingan historis sebagai berikut:
1)      Mempersoalkan bahasa-bahasa yang serumpun dengan mengadakan perbandingan mengenai unsur-unsur yang menunjukkan kekerabatannya. Bidang-bidang yang dipergunakan untuk mengadakan perbandingan semacam itu adalah: fonologi dan morfologi. Usaha untuk mengadakan perbandingan di bidang sintaksis belum membawa hasil yang memuaskan.
2)      Mengadakan rekonstruksi bahasa-bahasa yang ada dewasa ini kepada bahasa-bahasa purba (bahasa-bahasa proto) atau bahasa-bahasa yang menurunkan bahasa-bahasa kontemporer. Atau dengan kata lain linguistic bandingan historis berusaha menemukan bahasa proto yang menurunkan bahasa-bahasa modern.
3)      Mengadakan pengelompokan (sub-grouping) bahasa-bahasa yang termasuk dalam suatu rumpun bahasa. Bahasa-bahasa yang termasuk dalam satu rumpun yang sama belum tentu sama tingkat kekerabatannya atau sama tingkat kemiripannya satu sama lain. Ada beberapa bahasa yang menunjukkan bahwa keanggotaannya lebih dekat satu sama lain, dibandingkan beberapa anggota lainnya.
4)      Akhirnya linguistic historis komparatif juga berusaha untuk menemukan pusat-pusat penyabaran bahasa- bahasa proto (pusat penyabaran =homelan = centre of grafity = Negeri asal) dari bahasa-bahasa kerabat, serta menentukan gerak mingrasi yang perna terjadi. bila wilaya bahasa-bahasa kerabat sudah diketahui, dan sudah berhasil pula ditentukan negeri asal dari bahasa-bahasa kerabat itu, maka dapat direkonstruksi gerakan perpindahan (migrasi) dari negeri asal ke daerah-daerah yang sekarang diduduki oleh penutur bahasa Klasifikasi genetis
Klasifikasi genetis atau klasifikasi genealogis merupakan suatu proses pengelompokan bahasa-bahasa sebagai hasil dari linguistic bandingan historis. Klasifikasi ini merupaka hasil yang dicapai dari tujuan yang ketiga diatas, yaitu berusaha untuk mengadakan pengelompokan (sub-grouping) bahasa-bahasa yang termasuk suatu rumpun.
Klasifikasi ini dikembangkan dari kenyataan-kenyataan yang dijumpai para ahli pada bahasa-bahasa tertentu didunia. Banyak bahasa dieropa dan asia memperlihatkan bentuk-bentuk yang sama dalam fonologi, morfologi, dan perbendaharaan kata. Demikian pula kelompok-kelompok bahasa yang terdapat antara madagaskar dan rapanui (pulau paskah;pulau paas), dan antara Taiwan dan selandia baru memperhatikan kesamaan-kesamaan yang sangat besar kesamaan-kesamaan itu terutama mengenai kata-kata dasarnya : kata bilangan yang menyatakan anggota tubuh kata ganti binatang peliharaan dan yang menyatakan kegiatan sehari-hari. Penelitian mengenai kesamaan dari bermacam-mcam aspek bahasa yang telah disebutkan diatas, mula-mula dilakukan pada bahasa-bahasa indo eropa, kemudian diterapkan juga pada bahasa-bahasa lain didunia. Dari penelitian-penelitan yang dilakukan ini, para sarjan telah membagi bahasa-bahasa didunia atas rumpun-rumpun bahasa bedasarkan criteria fologis dan kosa kata. Criteria morfologis dipergunakan sebagai faktor penguat. Bila di bandingkan dengan klasifikasi tipologis, klasifikasi genelogis memperoleh kesepakatan yang merata, kecuali dalam hal-hal yang kecil.
Kelompok atau rumpun bahasa yang disimpulkandari metode yang dikembangkan dari linguistic bandingan historis, adalah :
1.      Rumpun Indo-Eropa : terdiri dari cabang-cabang German, Indo-Iran, Armenia, Baltik, Slavia,Roman,Keltik dan Gaulis.
2.      Rumpun Semito-Hamit : terdiri dari sub-rumpun hamit-koptis, berber, kushit, dan chad; dan sub-rumpun semit terdiri dari : arab, etiopik, dan ibrani.
3.    Rumpun chari –nil : bahasa-bahasa bantu (luganda, suwahili, kaffir, subiya, zulu, tebale) dan bahasa khoisan (busman dan hotenttot)
4.      Rumpun grafida : bahasa-bahasa telugu, tamil, kanari, Malayalam, dan brahui dibaluchistan.
5.      Rumpun Austronesia : disebut  juga melayu polinesia yang trdiri dari bahasa-bahasa Indonesia, Melanesia, polenisia.
6.   Rumpun austro-asiatik : mon-khmer, Palaung, munda,  annam.
7.    Rumpun finno-ugris : hungar,lop, samoyit.
8.      Rumpun altai : turki, mongol.
9.   Rumpun paleo-asiatis : bahasa-bahasa disiberia.
10.  Rumpun sino-tibet : cina, tai, tibeto-burma.
11.  Rumpun kaukasus : kaukasus utara dan selatan (georgia).
12.  Bahasa-bahasa Indian : Eskimo-aleut , na-dene.
13.  Bahasa-bahasa lain seperti : bahasa-bahasa irian, Australia , dan kadai.
14.   
C.        Sejarah linguistic bandingan sosial
Sebelum membicarakan metode-metode perbandingan dalam linguistic bandingan historis, perlu kiranya di kemukakan latar belakang timbulnya linguistic bandingan itu sendiri. dengan kerangka latar belakang itu kita kita dapat memahami lebih jelas metode-metode yang di kembangkan sejak permulaan hingga sekarang.
Dasar-dasar linguistic bandingan, baik tipologis maupun genetis, telah mulai di letakkan oleh sarjana-sarjana di eropa barat pada permulaan abad XIX. Sebenarnya apa yang di kembangkan pada saat itu adalah perbandingan dalam bidang fiologi. Dari dasar-dasar tersebut kemudian timbul metode-metode baru, yang kemudian di sempurnakan lebih lanjut dalam abad XX yang mencoba membandingkan bahasa secara murni dari segi linguistic.
Sejarah perkembangan ilmu bahasa dalam abad XIX dan pada awal abad XX, dapat di bagi dalam beberapa periode sebagai berikut :
a.       Periode I ( 1830-1860)
Periode ini mulai dari fanz bopp (1791-1867) dan di akhiri dengan august schleiher. Franz bopp di anggap sebagai tokoh yang meletakkan dasar-dasar ilmu perbandingan bahasa. Secara sistematis ia membandingkan dari akhiran-akhiran dari kata-kata dari baha sansekerta, yunani, latin, Persia german yang di terbitkan pada tahun 1816. Suatu hasil penting dalam periode ini adalah hasil penelitian yang dilakukan oleh friedrich von schlegel (1772-1829), seperti yang di tuangkan dalam bukunya uber die spprache und weisheit der inder  (1808). Dalam bukunya dia tidah hanya berhasil menujukkan hubungan antara bahasa sansekerta, yunani, latin, Persia german tetapii juga berhasil menetapkan bahasa-bahasa itu sebagai bahasa fleksi. Sebab ia menbagi bahasa-bahasa di dunia atas dua kelas besar yaitu bahasa fleksi dan berafiks.
a.       Periode II (1861-1880)
Dalam periode ini dimulai oleh seorang tokoh terkemuka august Schleicher (1823-1868) dengan bukunya yang terkenal compendium der vergleichenden granmatic.  Buku ini memuat semua hasil yang telah di peroleh sejauh itu, di samping itu ia mengemukakan pengertian baru seperti ursprace (proto language) yaitu bahasa yang me nurubkan sejumlah bahasa-bahasa kerabat. Dengan konsep ursprache inilah kemudian di cetuskannya stammboumtheorie dalam tahun 1866. Dalam stammbaumtheorie-nya ia melihat adanyaorganisme bahasa yang kemudian berkembang lebih jauh yaitu akar kata. Menurut Schleicher kata-kata berkembang dari satu suku kata sebagai akar menjadi kata-kata baru berdasarkan perubahan-perubahan paradigmatic dan derivasional, yang menjadi cirri dari bahsa fleksi.

b.      Periode III (1880-akhir abad XIX)
Penemua-penemuan baru yang di peroleh dalam tahun (1870-1880) mempengaruhi juga perkembangan ilmu bahasa.dalam periode sesudah  tahun 1880,muncullah suatu kelompok ahli tata bahasa yang menamakan dirinya junggrammatiker (neo-grammatici), mereka tertarik akan hukum-hukum bunyi yang telah di rumuskan oleh jakob grimm.

c.       Periode IV (awal abad XX)
Ilmu bahasa dalam awal abad XX sebenarnya sudah di mulai dengan penemuan-penemuan pada abad XIX. Penemuan-penemuan pada abad XIX yang belum member ciri khusus sebagai aliran yang khas, dan baru menemukan bentuk yang khas pada abad XX. Oleh sebab itu  pada abad XX lahirlah bermacam-macam aliran baru dalam ilmu bahasa. Aliran-aliran yang utama adalah :
a.        Fenotik berkembang suatu studi ilmiah. Sejalan dengan perkembangan itu para ahli mencurahkan pula penelitian atas dialek-dialek. Untuk itu dikembangkan metode-metode yang di pinjam dari fisiologi dan fisika (elektro-akustik).
b.      Sejalan dengan perkembangan studi atas dialek-dialek dengan menggunakan metode-metode fisiologi, fisika dan psikologi, maka muncullah cabang baru dalam ilmu bahasa yaitu psikolingistik dan sosiolinguistik. Sebenarnya psikolinguistik sudah mulai di tanamkan dasar-dasarnya oleh stenthal, Hermann paul, dan lebih dulu lagi oleh Wilhelm von Humboldt, mengaitkan studi bahasa dengan jiwa manusia. Sosiolinguistik merupakan perkembangan lebih jauh dari dialek-dialek.
c.       Suatu aliran lain dari awal abad XX adalah aliran praha, yang muncul sebagai reaksi terhadap studi bahasa yang terlalu halus sampai kepada bahasa individual (idiolek). Mereka lebih menekankan bahasa yang sebenarnya, yaitu keseluruhan bentuk dan makna dengan menekankan fungsi bunyi.
Berhasil tidaknya linguistic historis komperatif banyak tergantung pada kesimpulan-kesimpulan yang di hasilkan dalam linguistic deskriptif. Sebaliknya kesahihan kesimpulan dalam linguistic deskriptif tergantung pada kecermatan pencatatan data di lapangan.
Sebab itu juga dikatakan bahwa keberhasilanlinguistik historis komperatif tergantung dari pencatatan data-data di lapangan. Data-data di lapangan itu sama nilainya dengan artefak-artefak pada arkeologi. Data-data dari bahasa yang ada sekarang di anggap sebagai data-data yang mencerminkan keadaan masa lampau bahasa-bahasa. Sebab linguistic histois kompoeratif sangat bergandengan erat dengan  linguistic deskriptif atau data-data kontemporer pada bahasa-bahasa sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar